Trump dan Pemimpin Negara Mediator Resmikan Kesepakatan Perdamaian Gaza di Sharm el-Sheikh, Apa Isinya?

Trump dan Pemimpin Negara Mediator Resmikan Kesepakatan Perdamaian Gaza di Sharm el-Sheikh, Apa Isinya?

Asal Usul Kenapa Israel serang Palestina, Begini Kronologinya-FOTO-ISTIMEWA

SEMARAKNEWS.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump, bersama beberapa kepala negara mediator, resmi menandatangani dokumen kesepakatan perdamaian untuk Jalur Gaza dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perdamaian 2025 yang berlangsung di Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025) waktu setempat.

Negara-negara mediator dalam kesepakatan ini meliputi:

  • Amerika Serikat (Donald Trump)

  • Mesir (Abdel Fattah el-Sisi)

  • Qatar (Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani)

  • Turki (Recep Tayyip Erdogan)

Selain itu, lebih dari 20 pemimpin dunia dan badan internasional hadir sebagai saksi, termasuk dari Indonesia, Prancis, Inggris, Otoritas Palestina, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menariknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak hadir dengan alasan bertepatan hari raya, sementara Hamas hanya berkoordinasi melalui mediator Qatar dan Mesir.

BACA JUGA:Alasan Prabowo Resmi Coret Proyek Raksasa PIK 2 Tropical Coastland Milik Aguan dari Daftar PSN:

Gencatan Senjata Fase Pertama: Sandera, Tahanan, dan Bantuan Kemanusiaan

Kesepakatan perdamaian ini dibangun di atas gencatan senjata fase pertama yang telah disepakati antara Hamas dan Israel sebagai bagian dari proposal AS.

Berikut poin-poin penting dari fase pertama tersebut:

  • Pertukaran sandera dan tahanan:
    Hamas berkomitmen membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup beserta menyerahkan jenazah 4 sandera. Sebaliknya, Israel akan membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina, termasuk sekitar 250 orang yang divonis seumur hidup dan sekitar 1.700 tahanan lainnya. 

  • Proses pertukaran direncanakan berlangsung dalam 72 jam setelah gencatan senjata mulai berlaku.

  • Bantuan kemanusiaan: Sekitar 400 truk bantuan diizinkan memasuki Gaza per hari selama lima hari pertama, dan jumlahnya akan meningkat pada hari-hari selanjutnya.

  • Pemulangan pengungsi: Pengungsi dari Gaza selatan akan dipulangkan ke Kota Gaza dan wilayah utara.

  • Penarikan pasukan Israel secara bertahap, sesuai jadwal yang telah disepakati.

Analisis: Harapan dan Tantangan Perdamaian Gaza

Potensi Positif

  1. Penghentian sementara konflik memberi ruang bagi pemulihan kemanusiaan, pengiriman bantuan, dan rekonstruksi infrastruktur Gaza.

  2. Pertukaran tahanan dan sandera menciptakan momentum kepercayaan antara pihak yang bertikai.

  3. Dukungan global dan mediator kuat seperti AS, Mesir, Qatar, Turki menjadikan kesepakatan ini memiliki bobot diplomatik signifikan.

Tantangan Besar

  1. Ketidakhadiran Israel dan Hamas pada penandatanganan menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya terlibat secara langsung, yang bisa melemahkan komitmen operasional.

  2. Kepastian implementasi jangka menengah menjadi ujian. Apakah semua poin akan diterapkan secara konsisten?

  3. Kebutuhan pengawasan internasional agar pihak-pihak mematuhi kesepakatan, terutama soal demiliterisasi, distribusi bantuan, dan keamanan internal Gaza.

  4. Kerapuhan fase perdamaian: meskipun dijuluki fase awal, konflik historis di kawasan ini menunjukkan betapa mudahnya kesepakatan runtuh jika tekanan militer atau politik muncul kembali.

Brookings Institution mencatat bahwa kesepakatan ini bisa menghidupkan kembali gagasan solusi dua negara (two-state solution) jika langkah-langkah perjanjian diikuti dan dibangun secara berkelanjutan.

BACA JUGA:Jakarta Siap Bebas Daging Anjing dan Kucing! Pramono Anung Siapkan Pergub Demi Kesehatan dan Kemanusiaan

Keterkaitan dengan Isu Global dan Peran Trump

Penandatanganan ini juga mempertegas peran Donald Trump dalam diplomasi Timur Tengah sebagai mediator utama bersama negara-negara Arab.

Ia bahkan menyebut peace plan ini sebagai “Trump Declaration for Enduring Peace and Prosperity.”

Kesepakatan ini meskipun hanya fase pertama menjadi landasan penting bagi proses perdamaian internal di Gaza dan rekonsiliasi Palestina-Israel.

Para ahli memperingatkan bahwa kesuksesan jangka panjang bergantung pada komitmen politik, stabilitas keamanan, dan dukungan diplomatik internasional.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya