Uang Rp70 Triliun Dikembalikan, Tapi Anggaran BGN Justru Naik Gila-Gilaan: Tanda Keberanian atau Risiko Baru?

Uang Rp70 Triliun Dikembalikan, Tapi Anggaran BGN Justru Naik Gila-Gilaan: Tanda Keberanian atau Risiko Baru?

Anggaran BGN naik gila-gilaan pada 2026 menjadi Rp 335 Triliun, padahal di 2025 uang Rp 70 triliun dikembalikan ke negara-Unicef-

SEMARAKNEWS.CO.ID --- Anggaran besar seharusnya identik dengan program besar. Tapi ketika dana triliunan rupiah justru dikembalikan karena tak terserap, lalu tahun berikutnya malah digelontorkan dana berkali lipat—pertanyaannya sederhana: apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Fenomena ini tengah menyorot perhatian publik, setelah Badan Gizi Nasional (BGN) mengembalikan Rp70 triliun ke kas negara di akhir tahun 2025.

Namun, tak lama berselang, pemerintah mengumumkan bahwa alokasi anggaran BGN untuk 2026 justru melonjak drastis menjadi Rp335 triliun — menjadikannya salah satu lembaga dengan porsi anggaran terbesar di bawah kabinet Presiden Prabowo Subianto.

BACA JUGA:6.517 Penerima Makan Bergizi Gratis Alami Keracunan, BGN Bongkar Penyebabnya

Dana Jumbo yang Tak Terserap

Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengakui langsung fakta tersebut.

“Tahun ini, BGN menerima alokasi sebesar Rp71 triliun, ditambah dana standby Rp100 triliun. Dari total itu, Rp99 triliun berhasil terserap, sementara Rp70 triliun dikembalikan ke Presiden karena kemungkinan tidak terserap di tahun ini,” jelas Dadan dalam keterangan resminya, Selasa (14/10/2025).

Meski secara kasat mata dana yang terserap mencapai mayoritas, publik menyoroti fakta bahwa puluhan triliun rupiah tetap tidak termanfaatkan secara optimal.

Masalah ini kian menarik perhatian ketika pemerintah tetap menambah alokasi tiga kali lipat di tahun berikutnya, dengan alasan memperkuat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

BACA JUGA:Menu Ikan Hiu Bikin Bocah di Ketapang Tumbang, BGN Ngeles Soal Kearifan Lokal

Target Ambisius, Tantangan Nyata

Program MBG sendiri dirancang sebagai salah satu proyek unggulan pemerintahan Prabowo–Gibran, dengan target 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Dari sisi skala, BGN harus menyalurkan dana sekitar Rp1,2 triliun setiap hari, jumlah yang bahkan setara dengan anggaran tahunan satu kementerian besar.

“Bagi kementerian lain, angka itu mungkin setara anggaran satu tahun penuh, tapi bagi kami di BGN, itu kebutuhan satu hari,” ujar Dadan.

Namun di balik optimisme itu, muncul kekhawatiran soal kapasitas lembaga baru seperti BGN dalam mengelola anggaran sebesar itu.

Apalagi, dalam beberapa bulan terakhir, pelaksanaan MBG sempat diwarnai dengan kasus keracunan makanan di sejumlah daerah dan masalah distribusi logistik yang belum sepenuhnya stabil.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya