Serapan Tenaga Kerja Melambat, Industri Pengolahan Jadi Sektor Paling Tertekan

Serapan Tenaga Kerja Melambat, Industri Pengolahan Jadi Sektor Paling Tertekan

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan tenaga kerja dunia usaha melambat. Industri pengolahan mencatat kontraksi serapan tenaga kerja terdalam.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.idDunia usaha mulai menunjukkan sinyal hati-hati dalam menyerap tenaga kerja. Survei Kegiatan Dunia usaha (SKDU) Bank Indonesia mencatat pertumbuhan penyerapan tenaga kerja pada kuartal II 2026 mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya.

Berdasarkan survei tersebut, saldo bersih tertimbang (SBT) tenaga kerja pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 0,14 persen. Angka ini turun dibandingkan triwulan I 2026 yang masih berada di level 0,28 persen.

Bank Indonesia mencatat sejumlah sektor masih mengalami peningkatan kebutuhan tenaga kerja. Kenaikan terutama berasal dari lapangan usaha pertambangan dan penggalian dengan SBT sebesar 0,26 persen serta sektor konstruksi sebesar 0,07 persen.

“Beberapa lapangan usaha yang tercatat meningkat bersumber dari lapangan usaha pertambangan dan penggalian (SBT 0,26 persen) dan lapangan usaha konstruksi (SBT 0,07 persen) sejalan dengan peningkatan aktivitas usahanya,” tulis Bank Indonesia dalam laporan SKDU yang dikutip Ahad, 19 Juli 2026.

Selain dua sektor tersebut, penyerapan tenaga kerja juga tercatat tumbuh pada perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor dengan SBT 0,27 persen. Sektor jasa keuangan turut mencatat pertumbuhan dengan SBT 0,29 persen seiring bertambahnya jaringan dealer, showroom kendaraan, maupun kantor cabang.

BACA JUGA:MBG Mau Dipangkas, Anak SMA Terancam Dicoret, DPR Minta Fokus ke Balita dan Siswa SMP

Namun, tidak semua sektor mampu menjaga laju penyerapan tenaga kerja. Industri pengolahan justru menjadi sektor dengan kontraksi terdalam, dengan SBT tercatat minus 0,54 persen. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mencatat pertumbuhan positif dengan SBT 0,23 persen. Sementara itu, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib mengalami kontraksi dengan SBT minus 0,14 persen.

Bank Indonesia memperkirakan kondisi penyerapan tenaga kerja akan membaik pada triwulan III 2026. Berdasarkan perkiraan responden survei, penggunaan tenaga kerja diproyeksikan tumbuh dengan SBT sebesar 0,95 persen.

Peningkatan tersebut diperkirakan berasal dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan SBT 0,06 persen, didorong oleh musim panen komoditas hortikultura dan perkebunan.

Selain itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum diperkirakan mencatat kenaikan penyerapan tenaga kerja dengan SBT 0,08 persen. Sektor real estat juga diproyeksikan meningkat dengan SBT 0,12 persen.

Sementara itu, industri pengolahan diperkirakan mulai mengalami perbaikan meski masih berada dalam zona kontraksi. Pada triwulan III 2026, sektor tersebut diproyeksikan memiliki SBT sebesar minus 0,14 persen seiring membaiknya aktivitas usaha.

BACA JUGA:Kabinet Bayangan Resmi Dibentuk, Siap Bongkar dan Awasi Pemerintahan Prabowo

Perlambatan penyerapan tenaga kerja pada triwulan II 2026 menunjukkan bahwa pemulihan aktivitas usaha belum sepenuhnya merata. Beberapa sektor mulai menambah pekerja, tetapi industri yang selama ini menjadi salah satu penyerap tenaga kerja besar masih menghadapi tekanan.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler