Bos BI Mundur, Pasar Tak Langsung Kiamat. Tapi Mirae Ingatkan Badai Belum Benar-Benar Lewat

Bos BI Mundur, Pasar Tak Langsung Kiamat. Tapi Mirae Ingatkan Badai Belum Benar-Benar Lewat

Mirae Asset menilai pasar tetap tangguh usai pengunduran diri Gubernur BI, namun transisi kepemimpinan masih berpotensi memicu volatilitas.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id – Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sempat diperkirakan bakal membuat pasar keuangan domestik oleng. Kenyataannya, hari pertama setelah kabar itu muncul justru tidak menghadirkan kepanikan sebesar yang dibayangkan. Investor memang sempat waswas, tetapi belum sampai berbondong-bondong kabur dari pasar.

Kini perhatian pelaku pasar bukan lagi semata soal siapa yang mundur, melainkan siapa yang akan duduk di kursi Gubernur BI berikutnya dan apakah arah kebijakan moneter tetap konsisten menjaga stabilitas ekonomi.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengakui pihaknya semula memperkirakan pasar bakal bereaksi lebih keras, terutama terhadap saham-saham sektor perbankan. Namun, skenario tersebut belum benar-benar terjadi.

“IHSG memulai pekan ini dengan kinerja yang lebih tangguh dibandingkan perkiraan kami. Sebelumnya kami memperkirakan akan terjadi aksi jual yang signifikan, terutama pada saham-saham perbankan. Namun BMRI dan BBCA justru menguat, yang mencerminkan posisi investor dalam jangka pendek masih cukup konstruktif,” ujar Rully dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.

Menurutnya, respons yang relatif tenang itu menandakan pelaku pasar belum bereaksi berlebihan terhadap pergantian pimpinan bank sentral. Meski begitu, bukan berarti ancaman sudah sepenuhnya menghilang.

BACA JUGA:Survei SMRC Bikin Istana Kena Tampar, Prabowo Tumbang Telak dari Anak Buah Sendiri

Rully menilai setelah gejolak awal mereda, perhatian investor akan bergeser ke proses transisi kepemimpinan Bank Indonesia serta bagaimana bank sentral menjaga kesinambungan kebijakan moneternya.

“Namun demikian, kami melihat risiko ke depan justru meningkat, terutama terkait persepsi terhadap independensi Bank Indonesia yang berpotensi bergeser menjadi lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Kondisi itu dapat memicu volatilitas pada aset-aset domestik,” katanya.

Kewaspadaan investor, lanjut Rully, mulai terlihat dari pergerakan rupiah yang sempat melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat sebelum kembali berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS. Di saat yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun juga naik ke sekitar 7,35 persen, menandakan premi risiko di pasar ikut meningkat.

Nada kehati-hatian serupa juga datang dari analis pasar obligasi Mirae Asset, Jessica Tasijawa. Menurutnya, pasar surat utang masih menghadapi volatilitas tinggi sejak kabar pengunduran diri Gubernur BI diumumkan.

Padahal sebelum kabar tersebut mencuat, pasar obligasi sedang menikmati momentum positif. Arus dana asing yang masuk telah mencapai sekitar Rp16 triliun secara year to date, ditambah meningkatnya permintaan dari sektor perbankan serta dukungan perusahaan asuransi dan dana pensiun sebagai penopang permintaan domestik.

BACA JUGA:Prabowo Bikin IPDN Jadi Panggung Meritokrasi, Anak Buruh dan Petani Justru Borong Gelar Terbaik

Jessica mengatakan sentimen pasar berubah karena muncul pertanyaan mengenai transparansi, kredibilitas, serta tata kelola dalam proses pergantian pimpinan Bank Indonesia. Dampaknya, imbal hasil Surat Berharga Negara melonjak sekitar 9 basis poin, sementara rupiah kembali bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS.

“Kami meyakini kejelasan serta langkah pemerintah dalam proses pengambilan keputusan, khususnya terkait pemilihan Gubernur Bank Indonesia yang baru, akan menjadi faktor yang sangat krusial untuk menentukan arah kebijakan ke depan sekaligus memberikan kepastian bagi pasar Indonesia,” ujar Jessica.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya