Prabowo: Orang yang Tak Pernah Susah dan Menderita, Jangan Harap Jadi Bos
MK membatalkan Pasal 240 dan 241 KUHP tentang penghinaan pemerintah dan lembaga negara karena dinilai mengancam kebebasan kritik warga.-Foto: Antara-
JAKARTA, Semaraknews.co.id – Menurut Presiden Prabowo Subianto, jalan menuju kursi kepemimpinan rupanya tidak dibangun dari karpet merah. Seseorang justru harus lebih dulu mencicipi hambatan, kesulitan, bahkan penderitaan sebelum dianggap punya modal untuk memimpin orang lain.
Pandangan tersebut disampaikan Prabowo dalam perayaan ulang tahun ke-50 Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sekaligus peluncuran bukunya di Djakarta Theater, Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.
“Hampir bisa dikatakan, orang yang tidak menghadapi hambatan, tidak menghadapi kesulitan, tidak mengalami penderitaan, hampir bisa dikatakan tidak jadi pemimpin. Itu kenyataan,” tutur Prabowo pada Jumat, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis Badan Komunikasi Pemerintah RI.
Bagi Ketua Umum Partai Gerindra tersebut, penderitaan bukan sekadar cerita pahit dalam perjalanan hidup. Hambatan dan kesulitan justru menjadi semacam sekolah pembentukan karakter bagi seseorang sebelum ia dipercaya memegang nasib orang lain.
Namun, menurut Prabowo, menderita saja tentu belum cukup. Seorang pemimpin juga harus punya keberanian. Masalahnya, keberanian tanpa kebajikan bisa berubah menjadi keberanian yang justru membawa petaka bagi orang-orang yang dipimpin.
“Berani tanpa kebajikan akan muncul sebagai pemimpin, tapi mungkin pemimpin yang tidak hati-hati, pemimpin yang tidak arif, pemimpin yang ujungnya membahayakan yang dipimpin,” ujar Prabowo.
Ia menegaskan kepemimpinan bukan hadiah yang tiba-tiba jatuh dari langit. Kemampuan memimpin, kata dia, terbentuk melalui proses panjang, kerja keras, sikap, serta nilai yang tertanam dalam diri seseorang.
“Kepemimpinan itu didapatkan melalui kerja keras, melalui sikap, melalui nilai-nilai yang ada dalam seorang,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyinggung pengalamannya ketika masih memimpin pasukan khusus TNI Angkatan Darat. Dari pengalaman itu, ia mengaku terbiasa membaca karakter seseorang hanya melalui interaksi singkat.
Menurut Prabowo, pengalaman berhadapan dengan banyak orang sejak masih muda membuat dirinya terbiasa menangkap kesan awal dari seseorang. Ia menyebut kemampuan tersebut sebagai semacam getaran, insting, vibes, atau chemistry.
BACA JUGA:Temuan Mengejutkan di Yayasan Sekolah Kebayoran Lama, Kapolres Jaksel: Berkat Laporan Warga Sekitar
“Dari muda kita sudah berhadapan dengan 30 orang, pertama kali itu. Bahkan di Akademi kita sudah berurusan dengan orang, jadi kita sudah bisa lihat. Kita bisa menangkap apakah itu dikatakan getaran, apa dikatakan insting, mungkin bahasa Inggrisnya vibes atau chemistry. Dan kita bisa menilai dari dua-tiga kalimat, dari pembicaraan, dari tanggapan,” kata Prabowo.
Karena itu, Prabowo mengingatkan pentingnya menyiapkan generasi penerus yang tidak gampang ambruk ketika berhadapan dengan persaingan antarbangsa yang semakin keras. Ia tidak ingin generasi mendatang tumbuh menjadi kelompok yang sedikit-sedikit menyerah dan sedikit-sedikit meminta pertolongan.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-