Kulit Bawang Merah Bisa Bikin Panel Surya Lebih Tahan UV, Sampah Dapur Naik Kelas Jadi Teknologi
kulit bawang merah untuk panel surya, kulit bawang merah pelindung radiasi UV, nanoselulosa dari kulit bawang merah, teknologi sel surya ramah lingkungan, penelitian kulit bawang merah untuk energi surya-Foto: Antara-
BACA JUGA: Guru Besar Turun Gunung Suarakan 17 Krisis Indonesia
Persoalannya memang ada pada keseimbangan antara kemampuan menyaring UV dan kemampuan meneruskan cahaya. Radiasi dengan panjang gelombang di bawah 400 nanometer dapat merusak sel surya. Sebaliknya, cahaya pada panjang gelombang tertentu tetap harus bisa menembus lapisan pelindung agar sel surya dapat menyerap energi dan mengubahnya menjadi listrik.
Lignin, misalnya, memang bisa membantu menyaring UV. Tetapi material tersebut memiliki warna cokelat tua yang “membatasi penggunaannya dalam film transparan”.
Akibatnya, transmisi cahaya pada film yang mengandung lignin umumnya hanya sekitar 50 persen pada panjang gelombang 400 hingga 600 nanometer. Kemampuannya baru mencapai sekitar 85 persen pada panjang gelombang di atas 600 nanometer.
Film nanoselulosa dengan pewarna dari ekstrak bawang merah memberikan hasil yang lebih menarik. Material tersebut mampu meneruskan lebih dari 80 persen cahaya pada panjang gelombang 650 hingga 1.100 nanometer.
Bukan cuma soal performa awal. Film tersebut juga mampu mempertahankan kinerjanya selama periode pengujian yang cukup panjang.
Para peneliti menguji ketahanan filter dengan menempatkannya di bawah paparan cahaya buatan selama 1.000 jam. Durasi tersebut diperkirakan setara dengan sekitar satu tahun paparan sinar matahari dalam kondisi iklim Eropa Tengah.
BACA JUGA:Terjun Payung Bawa Foto Prabowo di HUT RI, Upacara Kemerdekaan atau Panggung Pencitraan?
Bagi Nizamov, pengujian jangka panjang semacam ini penting karena performa material berbasis biologis tidak selalu bertahan seperti ketika baru selesai dibuat.
“Perlindungan UV dan kemampuan meneruskan cahaya dari filter berbasis biologis lainnya berubah secara signifikan seiring waktu,” katanya.
“Sebagai contoh, film yang diberi perlakuan ion besi memiliki kemampuan transmisi cahaya yang baik pada awalnya, tetapi menurun setelah mengalami proses penuaan.”
Nizamov menilai hasil penelitian tersebut berpotensi diterapkan pada berbagai jenis teknologi sel surya, terutama sel surya perovskit dan fotovoltaik organik. Potensinya juga tidak berhenti pada sektor energi, sebab material filter berbasis biologis dapat digunakan dalam industri lain yang membutuhkan lapisan pelindung semacam itu.
Salah satu kemungkinan penerapannya adalah kemasan makanan. Dalam skenario tertentu, sel surya yang dapat terurai secara hayati dapat digunakan sebagai sumber energi bagi sensor yang ditempatkan di lingkungan steril.
Dengan begitu, kulit bawang merah perlahan punya kesempatan untuk mengubah nasib. Dari sesuatu yang biasanya dikupas, dibuang, dan dilupakan, limbah dapur ini justru berpotensi menjadi bagian dari teknologi energi masa depan. Kadang memang begitulah teknologi bekerja, yang dianggap sampah di dapur belum tentu sampah ketika dibawa masuk laboratorium.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-