Angka Obesitas Indonesia Menembus 23,4 Persen, Risiko Stroke Makin Dekat?
Angka Obesitas Indonesia Menembus 23,4 Persen, Risiko Stroke Makin Dekat?-Gemini AI-Istimewa
SEMERAKNEWS.CO.ID - Sebanyak 23,4 persen orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Angka tersebut setara dengan hampir satu dari setiap empat orang dewasa, sehingga isu obesitas Indonesia tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan penampilan semata.
Obesitas merupakan penyakit kronis kompleks yang dapat meningkatkan kemungkinan munculnya diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, stroke, serta beberapa jenis kanker. Karena itu, risiko diabetes dan gangguan kesehatan lain perlu dibaca sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas, bukan hanya akibat kelebihan berat badan.
BACA JUGA:Waspada! Nyeri Dada Mendadak Bisa Jadi Gejala Gangguan Aorta Jantung Mematikan
Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, menjelaskan bahwa penanganan obesitas membutuhkan waktu panjang. Menurut dia, tubuh mempunyai mekanisme biologis yang cenderung mempertahankan berat badan, sehingga upaya menurunkan berat badan secara besar dan stabil melalui perubahan gaya hidup saja bisa menjadi tantangan bagi sebagian orang.
Yunir menekankan, sasaran penanganan bukan semata-mata angka di timbangan. Fokus utamanya ialah memperbaiki kesehatan dan menekan risiko komplikasi melalui strategi yang berkelanjutan. Pendekatan penanganan obesitas juga tidak bisa disamaratakan karena kondisi medis, perilaku, kebutuhan nutrisi, dan target kesehatan setiap orang berbeda.
BACA JUGA:STOP! Hindari Kebiasaan Gantung Handuk Basah di Kamar Mandi, Bahaya Kesehatan Kulit Mengintai
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, menyebut asesmen gizi klinis sebagai bagian penting dalam menentukan strategi. Pemeriksaan tersebut membantu tenaga kesehatan memilih pola nutrisi sesuai kondisi dan kebutuhan individu. Dengan demikian, pencegahan stroke dan penyakit metabolik perlu dimulai melalui konsultasi yang tepat, bukan keputusan diet yang seragam.
Edukasi publik juga didorong melalui kampanye “Berani Bicara Berat” yang mengajak masyarakat memahami informasi berbasis sains, meluruskan miskonsepsi, serta mencari dukungan tenaga kesehatan. Pesan kampanye kesehatan metabolik itu menempatkan obesitas sebagai kondisi yang perlu ditangani secara profesional dan berjangka panjang.
BACA JUGA:Terjun Payung Bawa Foto Prabowo di HUT RI, Upacara Kemerdekaan atau Panggung Pencitraan?
Deteksi faktor risiko sejak awal dapat membantu seseorang dan tenaga medis menyusun langkah yang realistis, termasuk perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan pemantauan kondisi penyerta secara berkala. Langkah ini menegaskan bahwa obesitas Indonesia perlu dibicarakan tanpa stigma agar pasien memperoleh bantuan lebih cepat.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-