Demo 27 Agustus Berujung Gas Air Mata, RUU Perampasan Aset Masih Jadi Janji DPR

Demo 27 Agustus Berujung Gas Air Mata, RUU Perampasan Aset Masih Jadi Janji DPR

Demo 27 Agustus di depan DPR berujung gas air mata. Massa menuntut RUU Perampasan Aset disahkan, DPR memberi tenggat hingga 15 Desember.-Foto: Antara-

Massa Pati Pulang, Massa Lain Tetap Bertahan

Setelah perwakilan AMPB bertemu pimpinan DPR, massa dari Pati membubarkan diri sekitar pukul 12.30 WIB. Mereka kemudian bergerak menuju lokasi parkir kendaraan untuk kembali ke Pati, Jawa Tengah.

Namun, kepergian massa AMPB bukan berarti halaman DPR mendadak sepi. Ribuan demonstran dari berbagai kelompok masih bertahan. Ada aliansi perempuan, pengemudi ojek online, mahasiswa hingga pelajar berseragam putih abu-abu.

Alya Putri, salah seorang peserta aksi, datang bersama teman-temannya yang awalnya saling mengenal melalui media sosial Threads. Rombongan mereka disebut berjumlah sekitar 100 orang.

Alya mengatakan mereka turun ke jalan karena merasa kondisi masyarakat semakin membuat resah.

“Kami perempuan yang merasakan dampak kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat zalim,” kata Alya di lokasi aksi.

Cerita lain datang dari Rohan, pengemudi ojek online. Ia mengaku datang bersama rekan-rekannya sejak pukul 09.00 WIB. Sebelum bergabung dalam demonstrasi, Rohan masih sempat bekerja dan mengumpulkan sekitar Rp100 ribu.

Uang tersebut tentu bukan angka yang fantastis. Bagi pekerja harian, Rp100 ribu bahkan bisa saja sudah punya daftar tunggu panjang untuk dibayarkan.

BACA JUGA:Satgas Udara Taburkan 29 Ton Garam untuk Atasi Karhutla di Riau Sejak Februari

“Saya orang kecil, apa-apa serba mahal. Kita jadi ojol boro-boro simpan duit, setiap tahun, setiap bulan kita cuma dapat duit pas buat bayar kontrakan,” tuturnya.

Setelah massa AMPB pergi, giliran Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat yang tiba di lokasi. Kelompok ini membawa tuntutan berbeda dengan massa Pati. Mereka menyoroti kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai merugikan rakyat.

Mereka antara lain mendesak penghentian program makan bergizi gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.

Malam Datang, Gas Air Mata Ikut Menyusul

Situasi demonstrasi berubah ketika malam tiba. Polisi menembakkan gas air mata ke arah massa di depan Gedung DPR pada sekitar pukul 19.00 WIB.

Sebelumnya, aparat telah meminta massa membubarkan diri karena batas waktu penyampaian pendapat di muka umum telah berakhir. Dari dalam kompleks DPR, polisi beberapa kali membuka gerbang sembari menembakkan gas air mata ke arah kerumunan di luar.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya