Orang Tua Santri Ungkap Kronologi Keracunan MBG di Sidoarjo
Komnas HAM menyoroti kasus keracunan MBG yang terus berulang dan meminta pemerintah memperketat pengawasan serta menjamin pemulihan korban.-Foto: Antara-
“Gejalanya itu baru pagi tadi, pusing dan mual. Kemarin malah ikut bantu evakuasi teman-temannya ke rumah sakit,” kata Renni.
Anak Renni juga menyantap hampir seluruh menu MBG yang diberikan, kecuali tumis sayur.
BACA JUGA:Cara Hitung Uang Saku Program Magang Nasional 2026, Ada Potongan Tak Terduga
Setelah mendapat perawatan dan infus, kondisinya berangsur membaik. Gejala yang dialami juga tergolong ringan sehingga ia diperbolehkan pulang.
“Tiap anak kan beda-beda ya. Kalau anak saya hanya gejala ringan, jadi bisa pulang,” kata dia.
19 Lembaga Kena Imbas, Dapur MBG Bakal Dipanggil
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan dugaan keracunan tersebut berkaitan dengan distribusi MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Kalitengah.
Sebanyak 19 lembaga diketahui menerima makanan dari SPPG tersebut. Dari jumlah itu, korban paling banyak berasal dari Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Tanggulangin.
“Ada 19 lembaga yang terdampak. Mereka penerima manfaat dari SPPG Kalitengah,” tutur Emil.
Pemprov Jawa Timur berencana memanggil seluruh pemilik dan pengelola dapur MBG. Pemerintah ingin memastikan seluruh prosedur dan aturan penyediaan makanan dalam program tersebut benar-benar dijalankan.
Sebab, kalau program makan bergizi malah membuat ratusan penerimanya masuk rumah sakit, yang perlu diperiksa tentu bukan cuma perut para korban. Dapurnya juga layak diperiksa.
Kepala SPPG Kalitengah Rafli Ridho sebelumnya menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut. Ia mengatakan proses memasak makanan dilakukan seperti hari-hari biasa.
“Memasak pukul 00.00 WIB. Dikirim pukul 11.00 WIB. Masih batas aman karena dikonsumsi sebelum batas aman empat jam pengiriman,” ucapnya.
Rafli juga mengatakan makanan telah melalui pemeriksaan sebelum dibagikan kepada para penerima. Pemeriksaan itu, menurut dia, turut melibatkan pihak sekolah dan pondok yang mencicipi makanan terlebih dahulu.
Para santri sendiri menyantap menu MBG pada Selasa, 1 September 2026 sekitar pukul 12.00 WIB. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 18.00 WIB, mulai muncul laporan gejala seperti mual, muntah dan diare.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-