Pelajar Ditangkap Saat Demo, Pulang-Pulang Disambangi Polisi dan Tentara untuk Ikut Bela Negara

Pelajar Ditangkap Saat Demo, Pulang-Pulang Disambangi Polisi dan Tentara untuk Ikut Bela Negara

Pelajar yang ditangkap saat demo Agustus diminta ikut bela negara KKRI. YLBHI menyoroti hak kebebasan berpendapat dan dugaan unsur pemaksaan.-Foto: Antara-

Surat tersebut merupakan tindak lanjut atas surat Direktur Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang Polda Metro Jaya. Dengan demikian, urusan bela negara ini bukan sekadar ajakan yang beredar di grup WhatsApp keluarga.

Di laman resmi TNI, program KKRI disebut dirancang untuk menanamkan kedisiplinan, cinta Tanah Air, dan membentuk generasi muda yang tangguh serta berintegritas. Program itu juga diarahkan untuk mencetak agen perubahan dan calon pemimpin masa depan menuju Indonesia Emas.

Program KKRI mulai digelar sejak September 2025 sebagai tindak lanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto. Salah satu pelaksanaannya berlangsung di kawasan latihan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat, pada 20-21 September 2025.

Kegiatan tersebut melibatkan 964 peserta dari 13 sekolah menengah kejuruan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

BACA JUGA:Indonesia-Kanada Bahas Energi dan Mineral Kritis, Airlangga Hartarto Tawarkan Sektor Unggulan Paling Potensial

Kepala Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan Letnan Jenderal Gabriel Lema mengatakan bela negara merupakan bentuk kehadiran negara dalam membina generasi muda sebagai penjaga masa depan bangsa.

Menurut Gabriel, bela negara tidak hanya berkaitan dengan kesiapan menghadapi ancaman fisik. Ancaman nonmiliter melalui ruang informasi, termasuk cognitive warfare, juga menjadi perhatian.

“Ini sangat rentan menyasar generasi muda,” ujarnya, seperti dikutip dari laman Kemhan.go.id.

Dalam unggahan media sosial Kementerian Pertahanan, disebutkan bahwa 150 peserta pelatihan KKRI merupakan orang-orang yang mengikuti demonstrasi pada 27 Agustus 2026. Gabriel menyebut kegiatan tersebut sebagai wujud kehadiran negara untuk mendampingi generasi muda agar tidak salah arah.

Namun, bagi sebagian pihak, persoalannya bukan sesederhana soal arah jalan. Apalagi ketika orang yang baru keluar dari tahanan polisi kemudian didatangi aparat dan diminta mengikuti program pembinaan yang melibatkan institusi pertahanan.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan 121 pelajar dari Jakarta dan sekitarnya mengikuti program bela negara KKRI pada 5-14 September 2026.

Rico membantah anggapan bahwa pelatihan tersebut merupakan hukuman bagi pelajar yang mengikuti demonstrasi pada Agustus 2026. Ia menegaskan Kementerian Pertahanan menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum sesuai ketentuan hukum.

“Keikutsertaan (mereka) dalam program ini juga tidak ditempatkan sebagai hukuman,” katanya kepada wartawan melalui pesan WhatsApp, Senin, 14 September 2026.

Rico menjelaskan materi pelatihan meliputi Pancasila, wawasan kebangsaan, nilai dasar bela negara, sejarah perjuangan bangsa, budi pekerti, pembinaan mental dan karakter, pembinaan jasmani, literasi digital, teknologi informasi, desain grafis, pemahaman konflik sosial, serta edukasi bahaya narkotika dan terorisme.

“Tidak ada kegiatan yang bersifat fisik atau militer,” ujarnya kepada wartawan saat dimintai konfirmasi kembali, Rabu, 16 September 2026.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya
Berita Terpopuler