Prabowo Geser Orang-Orang Jokowi, Bersiap Pisah Jalan Politik
Prabowo merombak kabinet dan menggeser sejumlah pejabat dekat Jokowi. Pengamat melihat konsolidasi politik menuju Pemilu 2029 di balik reshuffle.-Foto: Gerindra-
JAKARTA, Semaraknews.co.id — Dua tahun belum genap, Kabinet Merah Putih sudah delapan kali mengalami perombakan. Dua reshuffle terakhir pada awal Oktober 2026 kembali memunculkan pertanyaan tentang arah politik Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah pejabat yang memiliki kedekatan dengan Presiden ke-7 Joko Widodo bergeser dari posisi strategis, sementara lingkaran politik Prabowo mendapat ruang lebih besar dalam pemerintahan.
Salah satu nama yang paling mencolok adalah Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Setelah memimpin Kepolisian RI sejak Januari 2021, Listyo kini meninggalkan kursi Kapolri untuk menjadi Kepala Staf Kepresidenan. Posisinya di kepolisian digantikan Jenderal Suyudi Ario Seto, yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional.
Perpindahan ini menarik karena hubungan Listyo dengan Jokowi bukan cerita baru. Sebelum memimpin Mabes Polri, Listyo pernah menjabat Kepala Polresta Surakarta pada 2011, ketika Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo. Pada 2014, ia juga dipercaya menjadi ajudan Jokowi setelah mantan Gubernur DKI Jakarta itu terpilih sebagai presiden.
Kini, Listyo ditempatkan di lingkungan Istana oleh Prabowo. Kepala Staf Kepresidenan sebelumnya, Dudung Abdurachman, digeser menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa reshuffle bukan hanya menyangkut siapa yang keluar dari kabinet, melainkan juga bagaimana posisi-posisi strategis diatur ulang.
Nama lain yang ikut bergeser adalah Pratikno. Mantan Menteri Sekretaris Negara selama dua periode pemerintahan Jokowi itu sebelumnya menjabat Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 107/P Tahun 2026, Pratikno kini ditugaskan menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.
Muhammad Qodari juga mengalami perubahan jabatan. Pendiri lembaga survei Indo Barometer yang dikenal sebagai penggagas gerakan Jokowi tiga periode pada 2021 itu dipindahkan dari posisi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah menjadi Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden.
BACA JUGA:Tiket Kereta Api di Surabaya Makin Mahal, Tarif Khusus Ikut Naik hingga Rp60 Ribu
Di sektor industri, Agus Gumiwang Kartasasmita kehilangan kursi Menteri Perindustrian yang didudukinya sejak 2019. Jabatan itu kini diserahkan kepada sesama politikus Partai Golkar, Muhammad Sarmuji. Agus sebelumnya dikenal sebagai Bendahara Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin pada Pemilihan Presiden 2019.
Rangkaian perubahan tersebut memunculkan tafsir bahwa Prabowo sedang mengurangi pengaruh politik pendahulunya di dalam pemerintahan. Namun, sejumlah pengamat melihat langkah itu bukan semata-mata upaya menyingkirkan orang-orang Jokowi, melainkan bagian dari konsolidasi kekuasaan menjelang Pemilu 2029.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai bergesernya sejumlah pejabat yang dekat dengan Jokowi menandai berakhirnya era dominasi mantan presiden tersebut di Istana. Ia juga menyoroti posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilainya semakin rumit.
“Posisi Gibran makin rumit,” kata Adi, Ahad, 4 Oktober 2026.
Menurut Adi, Prabowo juga sedang memperkuat jaringan politiknya di dalam pemerintahan. Ia menyoroti bertambahnya porsi Partai Golkar di kabinet, termasuk penugasan rangkap jabatan bagi Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi.
“Jadi reshuffle Oktober ini juga momentum konsolidasi politik Prabowo,” ujarnya.
Pengamat politik Universitas Esa Unggul, Muhammad Jamiluddin Ritonga, memiliki pandangan serupa. Ia menilai Prabowo berupaya mengurangi dominasi loyalis Jokowi, terutama pada jabatan yang berkaitan langsung dengan masyarakat.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-