Survei Prabowo Rontok, Isu Reshuffle Meledak! Istana Malah Bilang Kabinet Masih Aman
Lebih dari 50 orang tewas akibat gempa NTT magnitudo 7,7. Prabowo belum dipastikan datang, sementara sejumlah menteri telah dikirim ke NTT.-Foto: Antara-
JAKARTA, Semaraknews.co.id — Isu perombakan Kabinet Merah Putih kembali mencuat setelah elektabilitas Presiden Prabowo Subianto merosot dalam survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Namun, Istana buru-buru meredam spekulasi tersebut. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan Presiden belum memiliki rencana melakukan reshuffle dalam waktu dekat.
“Untuk sementara belum ada reshuffle,” kata Prasetyo dalam keterangan video Sekretariat Presiden, Kamis malam, 30 Juli 2026.
Menurut Prasetyo, agenda Presiden saat ini hanya berfokus mengisi sejumlah jabatan yang masih kosong, bukan mengganti menteri yang telah duduk di kabinet. Beberapa posisi wakil menteri hingga kini memang belum memiliki pejabat definitif.
“Kalaupun nanti ada pelantikan, kemungkinan hanya untuk mengisi kekosongan pada beberapa posisi yang ditinggalkan pejabat sebelumnya akibat perubahan yang terjadi kemarin,” ujarnya.
Saat ini terdapat sedikitnya dua kursi wakil menteri yang belum terisi. Jabatan Wakil Menteri Pertanian kosong setelah Sudaryono ditunjuk menjadi Kepala Badan Gizi Nasional. Sementara kursi Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan ditinggalkan setelah Silmy Karim berstatus tersangka dalam perkara dugaan korupsi.
BACA JUGA:Oknum Staf KPK Terseret OTT, Diduga Peras Bupati Pemalang Bersama Ayah Kandungnya
Prasetyo menegaskan Presiden belum membahas rencana mengganti para pembantunya di kabinet.
“Sejujurnya, kami maupun Bapak Presiden belum pernah berdiskusi mengenai rencana pergantian atau reshuffle dalam waktu dekat,” tuturnya.
Wacana reshuffle mencuat setelah hasil survei SMRC menunjukkan elektabilitas Prabowo mengalami penurunan cukup tajam. Kondisi itu memunculkan dorongan agar Presiden mengevaluasi kinerja kabinet.
Pakar komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai penurunan elektabilitas semestinya menjadi alarm bagi Prabowo untuk melakukan pembenahan serius, terutama di sektor ekonomi, politik, dan hukum.
Dalam survei SMRC, elektabilitas Prabowo pada simulasi semi terbuka turun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi hanya 14,5 persen pada Juli 2026. Sebaliknya, elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi justru melonjak dari 19,7 persen menjadi 35 persen pada periode yang sama.
Penurunan elektabilitas itu juga sejalan dengan merosotnya kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo. Tingkat kepuasan yang sempat mencapai 81,2 persen pada November 2025 turun menjadi 51,1 persen pada Juli 2026.
Jamiluddin menilai tren tersebut tak bisa disepelekan jika Prabowo masih ingin kembali maju pada Pilpres 2029.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-