Survei Bikin Istana Panik! Prabowo Disebut Sulit Dikasih Masukan, Gerindra Mulai Ketar-Ketir Soal 2029
Survei terbaru memicu kegelisahan di Istana dan Gerindra. Denny JA menyebut orang dekat Prabowo kesulitan memberi masukan, elektabilitas ikut merosot.-Foto: Antara-
Tempo juga memperoleh salinan survei internal yang digunakan di lingkungan Partai Gerindra. Survei tatap muka yang dilakukan pada 3 hingga 12 Juli 2026 itu menunjukkan tingkat kepuasan terhadap pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka berada di angka 61,2 persen.
Namun dalam simulasi elektabilitas, nama Prabowo justru berada di bawah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dedi memperoleh dukungan 37,8 persen, sedangkan Prabowo hanya 23,2 persen.
Hasil survei tersebut juga menunjukkan persoalan ekonomi menjadi penyebab utama melemahnya kepuasan publik. Sebanyak 52,6 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi.
Bahkan, 64,1 persen responden menyatakan program makan bergizi gratis sebaiknya dihentikan karena dianggap memboroskan anggaran negara.
Program Koperasi Desa Merah Putih pun mengalami nasib serupa. Sebanyak 62,5 persen responden menyatakan program tersebut sebaiknya dihentikan.
Seorang pejabat yang dekat dengan Presiden mengatakan hasil survei itu membuat Prabowo langsung menggelar serangkaian rapat dengan sejumlah lembaga negara.
Pada 14 Juli 2026, Prabowo memanggil Dewan Ekonomi Nasional ke kediamannya di Hambalang, Bogor. Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan hadir bersama Mari Elka Pangestu, Chatib Basri, dan sejumlah deputi untuk memaparkan kondisi ekonomi terkini.
Menurut dua peserta rapat, Luhut membawa kajian mengenai potensi perlambatan ekonomi pada semester kedua 2026, termasuk dampak krisis iklim El Niño terhadap inflasi pangan.
Dewan Ekonomi Nasional juga mengusulkan agar pemerintah memperkuat bantuan sosial dan memperluas jumlah penerimanya pada Oktober hingga Desember 2026 sebagai bantalan menghadapi tekanan ekonomi.
Juru Bicara Dewan Ekonomi Nasional Jodi Mahardi membenarkan lembaganya memberikan berbagai masukan kepada Presiden terkait kondisi ekonomi masyarakat.
“Semua poin yang disampaikan merupakan masukan untuk menjadi bahan pertimbangan pemerintah,” kata Jodi.
Dua pekan kemudian, Prabowo kembali menggelar rapat terbatas di Istana Negara untuk membahas ancaman El Niño. Salah satu pembahasannya adalah kemungkinan memperluas cakupan bantuan sosial.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan pemerintah masih menunggu arahan langsung Presiden mengenai penambahan jumlah penerima bantuan sosial.
“Tahun ini kami memberikan bantuan kepada 35 juta penerima manfaat, naik dari sebelumnya 18 juta orang,” ujarnya.
Di internal Partai Gerindra, hasil survei tersebut juga memicu diskusi serius. Seorang pendiri partai mengaku para kader menganggap penurunan elektabilitas Prabowo sebagai pukulan berat menjelang Pemilu 2029.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-