Pembunuhan Caesar dan Ironi Berakhirnya Republik Romawi

Pembunuhan Caesar dan Ironi Berakhirnya Republik Romawi

Pembunuhan Julius Caesar dimaksudkan untuk menyelamatkan Republik Romawi, tetapi justru membuka jalan bagi lahirnya Kekaisaran Romawi.-Foto: Dok. GT Health.-

Tiga Jenderal dan Satu Republik yang Mulai Retak

Pada 60 SM, tiga tokoh kuat Roma, Julius Caesar, Pompey dan Marcus Licinius Crassus, membentuk aliansi politik yang dikenal sebagai Triumvirat Pertama.

Aliansi itu bukan lembaga resmi negara. Namun, selama sekitar satu dekade, ketiganya memiliki pengaruh luar biasa terhadap politik Romawi.

Masalahnya, tiga orang yang sama-sama haus kekuasaan biasanya tidak akan selamanya nyaman berbagi panggung.

BACA JUGA:Instagram Kabinet Bayangan Dibajak, Penipu Tebar Giveaway Palsu hingga Jual iPhone Murah

Pada 58 hingga 50 SM, Caesar memimpin penaklukan Galia, wilayah yang kini mencakup Prancis, Belgia dan Luksemburg. Dari perang tersebut, ia mendapatkan kekayaan, popularitas dan reputasi militer yang luar biasa.

Kesuksesan Caesar mulai membuat Crassus tidak nyaman. Ia kemudian mencoba mengejar kejayaan dengan menyerang Kekaisaran Parthia yang berpusat di wilayah Persia. Hasilnya justru petaka. Crassus tewas pada 53 SM.

Dengan Crassus tidak lagi berada di antara mereka, keseimbangan dalam Triumvirat ikut lenyap. Hubungan Caesar dan Pompey yang sebelumnya sudah renggang berubah menjadi persaingan terbuka.

Kematian Julia, putri Caesar yang menikah dengan Pompey, juga membuat hubungan keduanya semakin dingin. Selama Julia masih hidup, setidaknya ada ikatan keluarga yang membantu meredam persaingan. Setelah ia meninggal, yang tersisa tinggal dua jenderal dengan ambisi masing-masing.

Ketika masa jabatan Caesar sebagai komandan di Galia hampir berakhir, Senat dan Pompey melihat kesempatan untuk menghentikan laju kekuasaannya.

Caesar diperintahkan membubarkan pasukannya dan kembali ke Roma sebagai warga negara biasa. Bagi Caesar, perintah itu bukan sekadar urusan administratif. Tanpa pasukan, ia merasa sangat rentan menghadapi musuh-musuh politiknya.

Ia mencoba bernegosiasi. Tetapi negosiasi gagal.

Pada Januari 49 SM, Caesar mengambil keputusan yang kemudian menjadi salah satu momen paling terkenal dalam sejarah Romawi. Ia membawa pasukannya menyeberangi Sungai Rubicon.

Tindakan tersebut jelas bukan perjalanan biasa. Hukum Romawi melarang seorang jenderal membawa pasukannya memasuki wilayah Italia. Rubicon menjadi batas antara Italia dan Galia.

BACA JUGA:Hampir 1,3 Ton Ketamin Digagalkan di Kepri, Fraksi PAN Soroti Modus Baru Narkoba

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya