Pembunuhan Caesar dan Ironi Berakhirnya Republik Romawi

Pembunuhan Caesar dan Ironi Berakhirnya Republik Romawi

Pembunuhan Julius Caesar dimaksudkan untuk menyelamatkan Republik Romawi, tetapi justru membuka jalan bagi lahirnya Kekaisaran Romawi.-Foto: Dok. GT Health.-

Sekitar 60 senator kemudian merancang pembunuhan terhadap Caesar.

Caesar Ditikam 23 Kali, Republik Tetap Mati

Pada 15 Maret 44 SM, rencana tersebut dijalankan.

Para senator yang dipimpin Marcus Junius Brutus dan Gaius Cassius Longinus menyerang Caesar dan membunuhnya. Sumber-sumber kuno menyebut Caesar ditikam sebanyak 23 kali, meskipun jumlah tersebut tidak dapat diverifikasi secara pasti.

Para pembunuh mungkin membayangkan satu hal sederhana. Caesar mati, republik selamat.

Ternyata sejarah punya selera humor yang berbeda.

Dengan Caesar disingkirkan, para senator tidak memiliki rencana yang jelas mengenai bagaimana Roma akan diperintah setelahnya. Mereka berhasil membunuh orang yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap republik, tetapi tidak berhasil menyelesaikan krisis politik yang membuat Caesar bisa menjadi begitu kuat sejak awal.

Kredibilitas Senat juga sudah telanjur hancur. Roma kembali terjerumus ke dalam perang saudara.

Pada akhirnya, pembunuhan Caesar bukanlah pukulan terakhir terhadap pemerintahan satu orang. Justru sebaliknya, tindakan tersebut ikut membuka jalan bagi lahirnya pemerintahan kekaisaran.

Republik baru benar-benar menemukan bentuk stabilnya pada 27 SM ketika Augustus menjadi kaisar pertama Roma.

Ironisnya, para senator yang membunuh Caesar demi menyelamatkan republik justru ikut mempercepat kematian republik tersebut. Caesar memang tumbang di tangan mereka, tetapi sistem yang hendak mereka pertahankan ternyata sudah terlalu rapuh untuk diselamatkan hanya dengan sebilah belati.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya