Pembunuhan Caesar dan Ironi Berakhirnya Republik Romawi

Pembunuhan Caesar dan Ironi Berakhirnya Republik Romawi

Pembunuhan Julius Caesar dimaksudkan untuk menyelamatkan Republik Romawi, tetapi justru membuka jalan bagi lahirnya Kekaisaran Romawi.-Foto: Dok. GT Health.-

Begitu tiba di Mesir, Pompey dibunuh atas perintah Firaun Ptolemy XIII Theos Philopator.

Ptolemy dan saudara perempuannya, Cleopatra, sedang berebut kekuasaan. Para penasihat Ptolemy mengira membunuh Pompey akan membuat Caesar senang dan mendorong sang jenderal memberikan dukungan kepada Ptolemy.

Perhitungan itu ternyata meleset.

Cleopatra justru berhasil mendekati Caesar. Keduanya kemudian membangun hubungan politik sekaligus romantis. Caesar membantu Cleopatra mengalahkan saudaranya dan mempertahankan kekuasaannya di Mesir.

Sementara itu, perang belum selesai. Sisa-sisa kekuatan Pompey masih melawan Caesar, kali ini berada di bawah kendali putra-putra Pompey.

Namun, perlawanan tersebut pada akhirnya gagal. Caesar memenangkan sejumlah pertempuran penting, termasuk Pertempuran Thapsus dan Pertempuran Munda.

Pada 45 SM, hampir seluruh kekuatan militer yang berseberangan dengan Caesar telah dikalahkan.

Perang saudara praktis dimenangkan Caesar. Tetapi kemenangan itu membawa persoalan baru yang jauh lebih besar.

Caesar Menang, Senat Panik

Setelah perang, Caesar menjadi orang paling kuat di Republik Romawi.

Pada 44 SM, ia menyatakan dirinya sebagai diktator seumur hidup. Sebagian masyarakat Romawi mengaguminya. Caesar dianggap sebagai jenderal hebat sekaligus administrator yang mampu bekerja lebih efektif dibandingkan Senat yang selama bertahun-tahun terjebak dalam pertarungan politik.

Namun, tidak semua orang melihatnya sebagai penyelamat.

Sebagian elite justru melihat seorang calon raja.

Bagi orang Romawi, kata “raja” bukan sekadar jabatan. Kerajaan adalah sesuatu yang sejak lama mereka tolak. Republik sendiri lahir dari penolakan terhadap sistem monarki.

Maka ketika Caesar semakin kuat, sebagian senator mulai menganggap bahwa masalah Roma bukan lagi Senat yang lemah, melainkan satu orang yang terlalu kuat.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya