Muktamar NU Memanas! Ada Paket Istana, AHWA, Duit, sampai Tuduhan Perintah Prabowo
Muktamar NU memanas dengan isu paket Istana, AHWA, insentif, hingga dugaan perintah Presiden Prabowo dalam perebutan kursi Ketua Umum PBNU.-Foto: Semarak/AI-
Situasinya lebih ramai di Trans Luxury Hotel. Sejumlah pria bersarung dan mengenakan kemeja berlogo NU terlihat lalu-lalang. Sebagian membawa koper ketika meninggalkan hotel.
Muhammad Lukman Edi, mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal yang masuk dalam tim pemenangan Kikin, membantah pengasuh Tebuireng itu menggunakan Asrama Haji dalam rangkaian muktamar. “Itu yang memesan Saifullah Yusuf,” kata Lukman.
Menurut Lukman, Kikin tidak keberatan dengan model pemilihan apa pun, baik melalui AHWA maupun one delegation one vote. “Tidak ada masalah,” ujar mantan Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa periode 2005-2008 itu.
Saifullah Yusuf menyebut tuduhan mengenai operasi politik menjelang muktamar bukan barang baru. Menurut dia, konsolidasi kandidat memang lazim dilakukan menjelang pemilihan pimpinan organisasi. “Itu semua tuduhan tanpa bukti yang cukup,” tutur Saifullah di Salemba, Jakarta Pusat, pada Senin, 24 Agustus 2026.
Di tengah riuhnya perebutan paket pimpinan, para kiai sepuh NU ikut membaca situasi. Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus mengirim surat kepada PBNU pada Senin, 17 Agustus 2026. Ia meminta Yahya Cholil Staquf menggelar pertemuan dengan para kiai khos untuk membahas dinamika menjelang muktamar.
Yahya memenuhi permintaan tersebut. Pertemuan digelar secara hibrida pada Kamis, 20 Agustus 2026. Sebagian kiai mengikuti melalui konferensi video, sementara lainnya datang langsung ke kantor PBNU di Jalan Kramat, Jakarta Pusat.
Gus Mus dan Yahya mengikuti pertemuan secara daring. Mustasyar PBNU sekaligus mantan Wakil Presiden Ma’ruf Amin hadir langsung di lantai delapan kantor PBNU.
Tiga pengurus PBNU mengatakan tujuh kiai sepuh membicarakan dugaan operasi untuk menggolkan paket pimpinan tertentu. Salah satu cara yang menjadi perhatian adalah pengajuan daftar anggota AHWA.
“Kalau itu terjadi, kami khawatir muktamar menjadi tidak punya legitimasi,” kata Ma’ruf.
Yahya yang juga merupakan kandidat ketua umum mencermati wacana pemilihan melalui sistem paket bersama AHWA. Menurut dia, perubahan tersebut akan membuat proses pemilihan semakin rumit.
“Jika harus mengubah aturan, itu baru berlaku pada pemilihan lima tahun mendatang,” ujarnya.
Meski begitu, Yahya tetap bersiap menghadapi kemungkinan perubahan mekanisme. Lima pengurus PBNU dan kolega Yahya mengatakan ia mendorong Ma’ruf Amin menjadi calon anggota AHWA sekaligus calon rais am.
Tim Yahya juga disebut mendorong paket AHWA kepada pengurus NU di daerah. “Saya bilang ke pengurus daerah bahwa Kiai Ma’ruf punya kapasitas,” tutur Yahya.
Dinamika Muktamar NU juga diamati oleh elite Partai Kebangkitan Bangsa. Dua pengurus teras PKB menyebut sebagian kader mencemaskan kondisi internal PBNU selama kepemimpinan Yahya. Mereka menyoroti konflik internal terkait tata kelola organisasi, manajemen tambang, dan akuntabilitas keuangan yang mencuat pada akhir 2025.
Sebagian pengurus PKB kemudian mendorong Said Aqil Siroj sebagai calon anggota AHWA sekaligus rais am. PKB juga mempersilakan Abdussalam Shohib dan Muhammad Yusuf Chudlori mencari dukungan dari pengurus daerah.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-