Punya Potensi EBT 188 GW, Jawa Timur Siap Jadi Motor Transisi Energi Indonesia
Besarnya peluang itu menjadi salah satu bahasan utama dalam Surabaya Electric Forum yang digelar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Wilayah Jawa Timur.--Istimewa
SEMARAKNEWS.CO.ID -- Jawa Timur punya peluang besar menjadi salah satu penggerak utama transisi energi di Indonesia. Tak cuma ditopang kebutuhan listrik industri yang terus tumbuh, provinsi ini juga menyimpan potensi energi baru terbarukan (EBT) mencapai sekitar 188 gigawatt (GW).
Potensi tersebut didominasi energi surya dan angin. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, Jawa Timur juga mendapatkan target penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 4.251 megawatt (MW).
Besarnya peluang itu menjadi salah satu bahasan utama dalam Surabaya Electric Forum yang digelar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Wilayah Jawa Timur.
Forum bertema “East Java Driving Indonesia’s Energy Transition” tersebut menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Energy Week Surabaya 2026 yang berlangsung pada 15–18 Juli 2026.
Acara ini mempertemukan perwakilan pemerintah, PLN Group, akademisi, pelaku industri, hingga pemangku kepentingan di sektor ketenagalistrikan.
BACA JUGA:Produk Elektronik Samsung Makin Diburu, Penjualan di Lazada Melonjak hingga Tiga Digit
Transisi Energi Tak Cukup Cuma Bangun Pembangkit
Rektor Institut Teknologi PLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, menilai transisi energi tidak bisa hanya dimaknai sebagai pembangunan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan.
Menurutnya, Indonesia juga harus menyiapkan sumber daya manusia, teknologi, kompetensi, dan ekosistem nasional yang mampu menghadapi perkembangan energi global.
Apalagi, posisi Indonesia berada di antara sejumlah pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memainkan peran lebih besar dalam sistem energi regional.
"Suatu saat jaringan listrik bisa saja tidak lagi dibatasi oleh batas negara, sebagaimana yang terjadi pada jaringan telekomunikasi saat ini. Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam perkembangan tersebut," ujar Prof. Iwa dalam keterangan resminya.
Karena itu, pembangunan infrastruktur energi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas talenta dan kompetensi nasional.
Indonesia dinilai tidak cukup hanya memiliki sumber energi melimpah. Negara ini juga membutuhkan orang-orang yang mampu mengelola teknologi, investasi, jaringan listrik, hingga sistem energi yang semakin kompleks.

Rektor Institut Teknologi PLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa--Istimewa
BACA JUGA:B50 Digadang Selamatkan Devisa Rp170 Triliun, Pemerintah Yakin Solar Sawit Jadi Tameng Ekonomi RI
Arah Kebijakan Sudah Ada, Tinggal Gas Implementasi
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-